IBSN: Mengapa Harus Saya?
Posted on 30. Oct, 2008 by sigid in Sisi Lain
(bagi icha, iiska dan semua yang rindu bertegur sapa)
/I
Hampir semua orang yang berada di sekitar rumah ini, atau yang sering berkunjung dan sejenak bercengkerama pasti akan mulai menduga dan bertanya-tanya bahkan bisa jadi curiga, lho… ada apa to? Lha wong rumah ini baru saja dibangun dan belum lagi selesai, kini sunyi sepi dan ngungun seperti laut sehabis badai, padahal dulu sempat ramai. Tak ada pesan atau penanda apalagi khabar berita. Kemana penghuninya? Siapa sebenarnya ia?
/II
Sebab malam mulai mengisut maka subuh pelahan menjemput. Langit timur mulai terang, saat itulah ia yang selama ini ditunggu-tunggu akhirnya pulang. Hujan gerimis sepanjang pagi membuatnya berjalan sedikit berlari. Sesampai di rumah, ia bercerita setelah sekian lama entah kemana.Baginya, tidak ada yang perlu dianggap istimewa, ia hanya seorang anak yang bapaknya Pensiunan Guru Sekolah Dasar dan ibunya bekerja di rumah saja. Lahir dan dibesarkan di salah satu desa di pinggira kota kabupaten Kalianda, Lampung Selatan hingga tamat SLTA. Meski sempat menjadi mahasiswa di kota kelahirannya, tapi ia tetap memilih untuk mengikuti jejak mbakyu dan mas-masnya mencicipi pendidikan di Jogjakarta.
/III
Keputusan hijrah ke kota budaya ternyata mengandung konsekwesni logis baginya. Ya karena ia harus bersabar menunggu untuk sementara waktu hingga saudara-saudaranya diwisuda lebih dahulu. Beberapa tahun dalam penantian untuk kembali duduk di bangku formal pendidikan, waktu luangnya tak sia-sia ia habiskan. Ia belajar apa saja untuk sekadar menambah pengalaman memulai menimba wacana.
/IV
Ia terus belajar apa saja, dengan nyantrik di berbagai kantung budaya dan menggeluti teater karena ingin menghilangkan rasa minder, juga menekuni sastra untuk belajar menulis dan berkarya. Beberapa kali manggung, beberapa kali menjadi sutradara, beberapa kali menulis naskah, beberapa kali naskahnya dipentaskan. Semuanya hanya beberapa kali, ukurannya pun kecil-kecilan, tak perlu itu dibanggakan.
Entah, sudah berapa ratus tulisan ia ciptakan dan ke berbagai media massa naskahnya dikirimkan, tapi hanya beberapa puisi yang bisa ditemukan dan sesekali ia arsipkan. Banyak juga yang beredar dari tangan ke tangan karena berbagi pengalaman sesama teman, meski tak pernah sempat mampir ke penerbitan. Barangkali semua orang memahami, bahwa di negeri antah berantah ini, wilayah sastra masih menjadi konsumsi selingan bahkan dianggap sekadar guyonan.
/V
Begitu kuat dorongan saudara-saudaranya mengakibatkan ia menempuh kembali pendidikan di sekolah tinggi swasta dan mengambil jalur informatika. “Bukankah ini akan lebih banyak memberikan peluang dalam mencari kerja nantinya?” tegas orangtuanya. Ia menurut saja, meski semua itu dijalani dengan sepenuh hati tapi tidaklah serta merta bersastranya ikut terhenti. Sambil nyambi menyelesaikan studi malah beberapa kelompok sastra ia bidani, mulanya tidak untuk sekadar berdiri, tapi biarlah kalau sekarang mati suri, setidaknya orang-orang yang pernah mengerami mudah-mudahan menemukan jati diri lewat berkali berproses dan kontemplasi.
/VI
Pagi itu kalau tidak salah ingat bernama sabtu, hatinya pilu sidikit serasa mengharu biru. Bukankah seharunya hari ini sudah lama dilewatinya, orang-orang di sekelilingnya begitu gembira ditemani sanak saudara, termasuk ia yang akhirnya menyelesaikan jenjang diploma tiga. Ya, hari itulah ia diwisuda, walaupun sekadar acara seremoni, sempat juga membuatnya iri karena sejenak merasa sendiri, tanpa siapa-siapa. Sudahlah, bukankan semua teman dan orang yang ada adalah sesaudara? Sedikit lega dan merasa dewasa ia. Kedua orangtuanya memang terlanjur meninggalkannya, “mudah-mudahan saja kini di surga” begitulah selalu lirih bisiknya. Jalan panjang tebal berkabut. Hari-hari suram di depan menyambut. Mimpi apa yang akan ia renggut?
/VII
Mimpinya tak lagi ingin jadi sastrawan, seluruh manuskrip yang pernah tersusun ia larung di selokan mataram. Bermuaralah entah kemana, kata-kata yang sampah saja. Tapi kenapa masih banyak orang yang salah duga, padahal sudah berulangkali ia tandaskan; dirinya bukan wartawan, apalagi seniman, semua ini hanya karena penampilan yang terbawa di keseharian. “Ooo… wahai para perempuan, jangan pernah kau pinta selarik sajak saja untuk kutuliskan, kalaulah hatimu tak ingin hancur berantakan!”, dalam sesalnya ia selalu berpesan. Ia lebih suka dianggap relawan, karena bisa lebih menikmati pekerjaan meskipun berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan berada di lapangan. Disanalah ia menemukan bahagia dengan merawat rasa tepa selira, sungguh betapa ia merasa menjadi sejatinya manusia.
/VIII
Menjadi seorang yang berstatus kelas pekerja pada sebuah organisasi nirlaba -beruntung kini sudah tetap statusnya- mungkin karena rasa loyalnya kepada lembaga atau kurangnya sumberdaya akhirnya ia dipercaya untuk belajar multimedia, jauh dari apa yang didapat saat kuliahnya. Sungguh ironi, karena ia paling benci dengan mahluk yang bernama televisi, bahkan pilihan ekstrim ini terbawa dalam hidup sehari-hari, sampai beberapa tahun terakhir ini ia tak pernah menikmati tayangan yang menurutnya sekadar basa-basi, terlebih lagi untuk jualannya Ram Pundjabi. Bukan, bukan lantaran karena tak mampu beli, sebab ia juga tak pernah mau ketinggalan informasi. Biarlah, pilihan itu akan sampai kapan ia jalani, toh segala bentuk perubahan terkadang tidak ada yang tahu pasti.
/IX
Sebelum lelah menutup cerita, tiba-tiba ia mengaku bahwa saat-saat ini ia menjadi orang yang paling bahagia, kenapa? Sejak ia bertekad membangun institusi terkecil yang bernama keluarga, bersama perempuan desa pula yang kini menjadi pendampingnya dan setelah setahun penuh hidup bersamanya, munculah tanda-tanda akan lahir generasi penerusnya. Sungguh bungah hatinya, tak lupa ia meminta kepada semua sahabat, saudara, tetangga, juga kawan-kawan di dunia maya meski belum sempat bertatap muka, untuk ikut mendoakan dengan penuh keikhlasan tentunya.
/X
Begitulah ia, yang tak lain adalah saya, pemuda desa bersahaja yang telah membeberkan rahasia atas setiap peristiwa yang pernah dijalani. Tanpa direkayasa, tanpa sidikitpun ingin menunjukkan rasa bangga. Akhirnya semua akan lebih dekat mengenalnya dalam tegur sapa atau sekadar berbagi apa yang sempat dipunya. Semoga hidup akan lebih nyata bermakna!
Popularity: 100% [?]
No related posts.







Alexhappy
07. Jan, 2009
salam kenal
Alexhappy terakhir posting PALESTINA BERDUKA
Didien®
07. Jan, 2009
kenapa harus saya..??? krn ga update-update hihihihihihihihihihihiiiii…
Didien® terakhir posting IBSN : Launching Portal IBSN & Pemenang IBSN award
ajeng
10. Jan, 2009
Terima kasih pagi-pagi sudah berkunjung…Salam kenal… Nice blog…
ajeng terakhir posting Kita Tidak Sendiri…
nanzzzcy
14. Jan, 2009
wow.. life story yg keren..
mari teruskan perjuangan karna jalan hidup kita msh panjang..
congratz buat si kecilnya juga yaa..
nanzzzcy terakhir posting Cinta ini membunuhku
eenx
14. Jan, 2009
Hm… sangat panjang
debrian
15. Jan, 2009
seru juga neh ceritanya..
salam kenal ya mas sigid
debrian terakhir posting Manusia Bahagia Bila…
debrian
15. Jan, 2009
wah… critanya pjg ya..seru tp.
salam,
blaze5.com
debrian terakhir posting Intel Atom
Agung Mojosari
15. Jan, 2009
Mengapa?
tanya kenapa?
xxixixi…. ikutan 2nd IBSN Award yuk kang.. bulan ini tutup tgl 25 jan ‘ 09 jam 23.59wib kami tunggu yah… IBSN (Berbagi Tak Pernah Rugi)
salam hangat, ^_^
tyan
20. Jan, 2009
Mas sigid dapet award dari tyan … di http://tyanjogjack.wordpress.com/2009/01/20/award-lagee-weew/
tyan terakhir posting Award Lagee… WeEW…
tyan
20. Jan, 2009
postnya di update, and semangat truzz ya…
nanoq da kansas
22. Jan, 2009
selamat siang, maaf baru bisa mampir. artikelnya bagus-bagus banget Mas. salam dari dusun senja
nanoq da kansas terakhir posting kereta yang tak pernah sampai
ekayunizar
02. Feb, 2009
ternyata eka lum nyampe disini…
hmmm…I see…it’s great..!!
Iis Kusaeri
11. Feb, 2009
Met aja buat Sigit. Salut dan bangga deh… 8P
ridho
11. Feb, 2009
ayo update blog he he
Bayoe
17. Mar, 2009
Kenapa ya….?
Pusing ah Bro gk tau ah :angry_ee:
langitjiwa
17. Mar, 2009
hanya
satu kata! fotomu keren abisss…!
hehe….
salamku
mahardhika
25. Apr, 2009
Semoga sukses selalu mas…
salammm…., Update dong mas… tapi sepertinya sibuk urus kuliah ya hehehe….
mg sukses lagi deh
antown
27. Apr, 2009
mas sigid ternyata nyentrik, saya suka topimu
alhakim
29. Apr, 2009
kapan nulis lagi mas sigid?
damalyk
30. Apr, 2009
waahhhh..selamat ya mas sigid..
mas ini blog ku yg baru mas..
gublogreyot
nyubi
30. Apr, 2009
wah,, koq mas lama gag di update2, kenapa?
sibuk eah,,,, :lol_ee:
ridho
17. May, 2009
mas ayo ngeblog lagi
mascayo
11. Jun, 2009
mas sigid kemana yaa?
didin
26. Jul, 2009
Ikutan 4th IBSN award yuk..
Informasi dan ketentuan silahkan baca di sini
IBSN= Karena Berbagi Tak Pernah Rugi..
Trimakasih…^_^
ajiventobyethost14.com
15. Aug, 2009
mantap nih tmplatenya..cara ngilangin video ma banner adsnya gmana mas..ajarin ..nyubi nih
blackgerry tour d'java
29. Oct, 2009
loh, tahun 2008 yah … lanjutkan ah …
blackgerry tour d'java
29. Oct, 2009
kang, kapan ngeblog lagih?
adin
30. Oct, 2009
keren…salam kenal mas..
umar tajudin
07. Apr, 2010
cerita yg seru…. selama ini sy mengenal kawan sigit sebagai akitivis….Eh ternyata ada sisi lain….yg sederhana…yang polos….dan suka bercerita (bersastra)..
semoga bakatnya menulis terus bergairah dan bergelora…
menjadi jejak bagi para penerus untuk mewujudkan segala mimpi dan harapan….
Hanif
17. Apr, 2010
cerita tentang diri sendiri nih? kata2nya sastra banget. hehe.
Hanif´s last blog ..Manusia Itu Dua Sisi
alhakim
25. Aug, 2010
Apa kabarnya mas sigid?
alhakim´s last blog ..Selamat Tinggal CutLine