Di Tikungan Iblis, Teater Dinasti dan Kyai Kanjeng Bertemu

Posted on 28. Aug, 2008 by sigid in Sisi Lain

Sabtu, 23 Agustus 2008 yang lalu saya menghadiri sebuah pertemuan. Atau lebih tepatnya sebuah perayaan. Mengapa? Dari dulu saya memang suka dengan yang namanya pertunjukan, baik itu konser musik, pergelaran tari, pementasan teater, ketoprak, wayang de el el, sebisa mungkin saya sempatkan datang untuk sekadar menikmati (wah kesannya kok jadi nyeniman banget yaks).

Nah, kebetulan Teater Dinasti yang sejak dua dekade undur diri tak lagi memasuki wilayah panggung teater Yogyakarta dan Indonesia, malam itu berkolaborasi dengan Kiai Kanjeng untuk memberikan respons kritis atas berbagai persoalan sosial,
politik dan kebudayaan bangsa ini lewat ide-ide pencerahan dalam sebuah reportoar “Tikungan Iblis” yang mengadopsi teks puisi panjang karya Emha Ainun Nadjib.

Seperti yang dikatakan Indra Tranggono dalam pengantarnya; sejak sepuluh tahun terakhir pasca reformasi bergulir, perkembangan teater modern, sastra atau kesenian pada umumnya menunjukkan gejala makin terasing dari persoalan-persoalan publik. Di sisi lain, tema-tema personal seperti cinta, maut, seks, kerinduan, atau apa saja, termasuk hal-hal non-sense, justru mendominasi. Persoalan sosial, politik, religius atau apa saja yang menyangkut epentingan publik sudah dianggap selesai. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian, kelumpuhan di berbagai bidang; masyarakat mengalami krisis presentasi diri, sehingga merasa tak berdaya untuk merespons secara kritis gelombang persoalan yang digerakkan oleh kapitalisme, industrialisme dan materialisme. Akh, biar gak tambah panjang lebar, mungkin ada baiknya sedikit saya berbagi cerita tentang pementasan malam itu.

Bermula perjalanan eksistensial manusia dari awal penciptaan Adam hingga masa di mana manusia berkembangbiak dan membangun peradaban.malaikat-malaikat di tikungan iblis Dan, Iblis –yang sejak awal diciptakannya manusia, sudah tidak percaya akan mampu untuk menjadi khalifah di bumi– akhirnya membuktikan ketidakpercayaannya itu: Hidup manusia hanya berkisar dari tiga kata kunci yaitu rakus, merusak bumi dan saling berbunuh-bunuhan.bunuh membunuhUmat manusia ternyata tak lebih menjadi sekadar wadag/jasad. Tapel yang bergerak dan beraktualisasi diri lebih didasari insting daripada hati nurani dan akal sehat. Mereka “selalu gagal” untuk menjadi semacam insan kamil, karena ketidakmampuannya memilih hal-hal yang bernilai dalam kehidupan.tapel tikungan iblisKekurang mampuan untuk mengangkat dari kondisinya sebagai makhluk tapel itu juga yang membuat sebuah bangsa selalu mengalami kemerosotan martabat. Padahal, bangsa itu memiliki gen unggul sebagai “Burung garuda” sejati yang memiliki kemampuan untuk terbang, menerkam dan berjuang. Namun, karena dikurung oleh kekuatan yang menindas, maka garuda tak lagi memiliki kemampuan dasarnya.garuda terkurungYang menyedihkan adalah anak-anak, cucu dan cicit Garuda. Mereka bukan hanya tidak bisa terbang atau menerkam tapi memang tidak lagi memiliki memori untuk terbang dan menerkam. Bisanya hanya nothol (mematuk makanan) dan tidur, dan akhirnya benar-benar menjadi Garuda kelas tapel.manusia dicekam iblisPertunjukan yang berlangsung 2 jam 34 menit ini mencoba memberikan paradigma yang berbeda. Iblis bukan kompetitor Tuhan untuk menguasai manusia. Iblis adalah sosok penting yang menjadi ’alat’ Tuhan untuk menunjukkan kebesaranNya bagi umat manusia. Iblis adalah sosok yang menjadi aktor strategis bagi Tuhan untuk memberikan berbagai tantangan bagi manusia untuk memperjuangkan martabat dan eksistensinya.

Ia menawarkan ’anti tesis’ atas ’tesis’ Tuhan, agar manusia mampu menggenggam sintesa: nilai-nilai Ilahiyah secara utuh, mendasar dan mengakar, karena nilai-nilai itu tidak otomatis hadir sebagai paket, melainkan diraih melalui perjuangan yang keras dan mendidih.paradigma iblisSehingga ketika manusia mengakui eksistensi Tuhan –dengan seluruh nilai-nilai idealnya– maka pengakuan itu tidak artifisial, melainkan substansial. Lakon ini bukan merupakan ’pembelaan’ atas Iblis melainkan mencoba memperluas cara pandang manusia atas sosok Iblis.

Pentas yang disutradarai Jujuk Prabowo dan Fadjar Suharno (pimpinan teater Dinasti) ini didukung seniman-seniman Jogja seperti Joko Kamto, Novi Budianto, Seteng, Fadjar Suharno, Tertib Suratmo, Untung Basuki, Jemek Supardi dan belasan pemain muda lainnya, dimaksudkan sebagai pentas kebahagiaan keluarga Besar Dinasti dan Kyai Kanjeng, sembari mencoba menyodorkan berbagai paradigma yang berbeda tentang sosok iblis.

Bagi Novia Kolopaking, artis dan juga penyanyi yang ikut bermain sebagai Siti Majenuna (tokoh kiriman iblis tetapi justru banyak menyuarakan persoalan tentang nilai-nilai filosofis) merasa memiliki tantangan tersendiri, sebab baginya teater bergerak di wilayah idealisme, sementara sinetron dalam ranah komersialisme, lantas ia tutup pementasan ini dengan senandung pilu:

Sepinya hati Garuda
Dijunjung tanpa jiwa

Menjadi hiasan maya
Oleh hati yang hampa

Yang menarik, ketika pementasan usai, ribuan penonton terpaku sepertinya enggan beranjak meninggalkan ruang, entah apa alasannya. Tak lama kemudian muncullah Cak Nun, mengajak semua yang ada untuk kembali berpulang kepada pemikiran, pemahaman dan hati yang jernih dalam memaknai berbagai persoalan yang sedang terjadi lewat syair-syair dan shalawat yang dilantunkan bersama-sama. Yah, mudah-mudahan pertemuan ini tak sekadar kelangenan, tetapi lebih menjadi penanda sebuah kebangkitan demi perubahan, semoga. :D Marhaban ya Ramadhan!

*tulisan disarikan dari berbagai sumber
*foto-foto: koleksi pribadi (thank to Ridho atas kemurahan hati untuk 140mm-nya)

Related Posts with Thumbnails

Popularity: 56% [?]

No related posts.

Tags: , , , , , , ,

38 Responses to “Di Tikungan Iblis, Teater Dinasti dan Kyai Kanjeng Bertemu”

  1. dhira

    28. Aug, 2008

    cieeeeeeeee.. mulai mengapresiasi seni lagi nih..?
    kereeeen.. ;)

    dhiras terakhir posting Pecel Bojonegoro

  2. Bayu Aditya

    28. Aug, 2008

    wah kayanya keren bgt nih acaranya

    Bayu Adityas terakhir posting RSS Adalah…

  3. sigid ajah

    28. Aug, 2008

    @jingga: begitulah, kecenderungan yang menggejala to? sampai-sampai kadang kita terasing di rumah sendiri :(

    @unintended: yoi, Dipowinatan cikal bakalnya :p

    @Bayu: lebih dari sekadar keren pak :) terimakasih sudah berkunjung

    @dhira: ya.. kesenianlah yang sampai saat masih bisa memompa semangad :bandit:

  4. unintended

    28. Aug, 2008

    Hidup Dipowinatan ! *lho*

    unintendeds terakhir posting Grunge (Fresh) News

  5. sigid ajah

    29. Aug, 2008

    @Rully: ya, pengennya juga begitu, tapi script saya ga laku-laku hiks :( salam kenal juga pak

    @vad: ya… ya semacam nostalgia, tapi atmosfir ‘terkam’ jogja dah lesu, begitukah :p

    @zulkarmen: ya.. kita lihat saja 2009 :D

    @herdianto: sempat sih ngintip beberapa kali latihannya di rumah Cak Nun, ampe gladibersihnya juga nyempetin hadir, wuiih ternyata begitu semangatnya :wink:

    @My: jadi hidup itulah yang harus dimainkan :p

    @Sassie: iya itu salah satunya, makasih dah mampir ya :D

    @Ridhocyber: ya… selalu ada yang tersirat dari setiap pertunjukan, apapun itu :D soal photo, aku tetap berutang budi padamu :bandit:

  6. jingga

    28. Aug, 2008

    pentas seni teaternya maut ya, setuju sama kalimat terakhirnya ’sarat nilai filosofis dan idealisme’, tp jujur ya, krn cenderung ‘berat’ itu makanya lbh laris sinetron :) .

    nice post

  7. ridhocyber

    28. Aug, 2008

    mas sigit nonton teaternya kok gak ngajak ngajak sih ya!

    keren banget euy poto2nya he he

  8. ridhocyber

    28. Aug, 2008

    pesan moralnya juga bagus mas

    saya sampai sekarang kalo nonton teater atau liat lukisan, kok susah sekali nangkep makna di dalam cerita yah.

  9. Sassie Kirana

    28. Aug, 2008

    Pagii..
    Owh..jadi ini toh yang mau diliput sampai pamitan buru buru..*.*
    Good job..dua jempol deh buat artikelnya

  10. My

    29. Aug, 2008

    kehidupan ini adalah seni…
    semangat,….!!!

    Mys terakhir posting Met Ultah AbangQ … !!!

  11. herdianto

    29. Aug, 2008

    boleh juga tontonannya…

    herdiantos terakhir posting Stop Lipsync

  12. zulkarmen

    29. Aug, 2008

    “tema-tema personal seperti cinta, maut, seks, kerinduan, atau apa saja, termasuk hal-hal non-sense, justru mendominasi. Persoalan sosial, politik, religius atau apa saja yang menyangkut epentingan publik sudah dianggap selesai. Bisa ditebak apa yang terjadi kemudian, kelumpuhan di berbagai bidang; masyarakat mengalami krisis presentasi diri, sehingga merasa tak berdaya untuk merespons secara kritis gelombang persoalan yang digerakkan oleh kapitalisme, industrialisme dan materialisme”

    ini mungkin juga akibat kurangnya pemahaman hidup secara menyeluruh, sehingga setiap anggota masyarakat semakin terfragmentasi. dan sebagian besar masyarakat sepertinya memang tertariknya hanya pada hal2 yang bersifat permukaan, menghibur, dan mudah. masalah makna hidup masih kurang mendapat perhatian. kak seto bilang hanya 1 % tontonan televisi yang mendidik. hmmm…, berarti yg 99% itu ga mendidik ya…? . ya mudah2 an dengan pentas teater, dengan ngeblog, kita bisa memberi sedikit kontribusi dan penjelasan pada khalayak, bahwa masih banyak persoalan sosial politik religius yang perlu mendapat perhatian. karena bila tidak, bangsa ini dan keturunannya juga yang akan menanggung akibatnya. btw, dimana kepedulian pemerintah selaku abdi negara? ataw mereka tak sadar kalaw rakyatnya sudah banyak yang tak berdaya? ataw mereka sudah banyak yang terkooptasi oleh kapitalisme?hmmm…
    salam…

  13. vad

    29. Aug, 2008

    sebuah repertoir yang merindukan…………..
    setelah sekian lama tak kunjung dalam event seni dan budaya, lebih-lebih teater, cukup haru, salut dan selamat atas pementasan TIKUNGAN IBLIS nya dinasti, setelah sekian lama (2 dekade) mati suri, kini hangat kembali, seolah menyemarakkan kembali, dunia teater. selamat jumpa kembali teater dinasti…

    tentang isi dan substansi TIKUNGAN IBLIS, saya abaikan… yg juga menonton saat itu… saya lebih tertarik dengan penonton yang cukup berjubel memadati auditorium… seolah mereka juga kangen dengan persitiwa teater atau pun juga pelaku DINASTI nya sendiri.
    Penonton umur 40th ke atas cukup banyak yang datang (60an % kira kira). penonton remaja justru banyak datang dari kalangan non teater, (baca:aktivis teater remaja/kampus lagi bokek ya?)
    Anak-anak juga lumayan banyak datang beserta orang tuanya.

    cukup senang rasanya bisa hadir di tengah-tengah peristiwa teater itu…

  14. Rully Patria

    29. Aug, 2008

    pengennya sih cerita2 dengan tema seperti ini ditayangkan di televisi dengan suguhan yang mungkin sedikit ‘bisa dimengerti’ tidak terlalu berat maksudnya agar pesan yang terkandung di dalamnya bisa tersampaikan pada lebih banyak orang….

    tertarik bikin Kang? :P

    -Salam kenal

    Rully Patrias terakhir posting FLEXI Lebih Butuh Konsistensi ketimbang Inovasi

  15. Daniel Mahendra

    29. Aug, 2008

    Wah, siapa yang foto-foto?

  16. easy

    29. Aug, 2008

    duuh.. sejak hijrah dikota yang baru sekarang, aku ga pernah lagi liat pertunjukan2 seni gitu..
    paling disini seringnya acara pagelaran dul muluk.

    #pertunjukan teaternya keren banget, sampe pada ga beranjak walau telah usai..

  17. sigid ajah

    30. Aug, 2008

    @easy: iya yi, jogja juga sepi pertunjukan sekarang :(

    @Daniel Mahendra : saya sendiri mas yang lagi belajar motret :bandit:

  18. ma2nn-smile

    30. Aug, 2008

    wah jadi pengen liat nieh….
    keep smile aja deh….

  19. Sarah

    30. Aug, 2008

    -knjungan balik-
    keren tuch pentasnya… semoga makin kreatif

    Sarahs terakhir posting Taubat

  20. Sassie Kirana

    30. Aug, 2008

    Pagi sigid..^.^
    Besok kita udah memasuki bulan suci ramadhan..maafin sassie kalau selama ini mungkin punya khilaf dan salah sama sigid..mudah mudahan ramadhan tahun ini membawa berkah buat kita semua Amin
    Sukses ya buat sigid be the best ..have a great weekend *.*

  21. sigid ajah

    31. Aug, 2008

    @Sassie: sama sie, dirikupun begitu mohon maaf lahir bathin ya :(

    @aha: iya mas, penuh filosofi

    @rizoa: terimakasih mas, dah berkunjung mudah-mudahan betah ya

    @tejo: iya mas, nimatin pertunjukkannya sambil belajar motret :bandit:

    @caknun: iya pak, semua itu harus dibayar mahal (penuh dengan kesabaran dan ketulusan hati) :D

  22. aha

    31. Aug, 2008

    keren neh pertunjukannya

  23. rizoa

    31. Aug, 2008

    keren banged eh….

  24. tejo

    31. Aug, 2008

    wuih,foto2nya dramatis bener! apalagi dateng langsung yah?!!

    tejos terakhir posting XnView image viewer

  25. caknun

    31. Aug, 2008

    Besok kita sudah masuk BBM (Bulan Barokah dan Maghfiroh) dalam suasana PREMIUM (Prei makan minum), banyak isi SOLAR (Solat lail dengan rajin) dan MINYAK TANAH (Banyak tadarus dan tahan marah). Mohon maaf

    caknuns terakhir posting Hikmah Lutut Terkilir

  26. masarif

    31. Aug, 2008

    marhaban yaa ramadhan…

  27. Sassie Kirana

    31. Aug, 2008

    Sahuurr..sahuurr..sahuurr.. Selamat makan sahur ya buat sigid dan semua yang ada disini ^.^

  28. fitri

    31. Aug, 2008

    Wah suka seni teater juga toh, aku dulu semasa SMA juga pernah ikut seni panggung begitu… emang nyenengin kok, bisa membangun kepercayaan diri dan mengekspresikan diri… sipppp
    “mohon Maaf lahir Bathin yah… , selamat melaksanakan ibadah puasa”

  29. sigid ajah

    01. Sep, 2008

    @Manik: Pentas kemarin, meski sudah pada berumur para pemainnya tetapi keaktorannya tidak menurun, karakternya tetap kuat banget mas. Memang seru pentasnya :D

    @Isnuyasha: TEATER DINASTI (singkatan dari dana informasi nasional teruna Indonesia) berdiri tahun 1977. Para ‘bidan’ teater ini adalah: Fajar Suharno, Tertib Suratmo dan Gadjah Abiyoso (ketiganya eks Bengkel Teater Rendra). Banyak teaterawan yang bergabung dalam teater ini, seperti pelaku teater dari Teater Dipo, kampung Dipowinatan Yogyakarta. Tercatat nama-nama Novi Budianto, Joko Kamto, Godor Widodo, Jemek Supardi, Cuthut Puspowilogo, Neneng Suryaningsih, Jujuk Prabowo, Tuti Bodis dan linnya. Dalam perkembangannya bergabung pula Simon Hate, Arifin Brandan, Joko Kusnun, Bambang Susiawan, Agus Istijanto, Bambang Isti Nugroho, Angger Jati Wijaya, Iwung, Tarech Rasyid, Butet Kartaradjasa, Rullyani, Cecilia Haryanti, Sabrang Mowo Damar Panuluh (kini dikenal sebagai Noe-Letto dan lainnya).

    @Sassie: Makasih banget, dirimu selalu ngingetin daku :D mudah-mudahan dapet balasan yang lebih ya :bandit:

    @Onie: di TBY nie, ya silakan dilink

    @Wiend: alhamdulillah kalau begitu :wink:

    @fitri: ya saya juga sempat beberapa tahun ikutan teater, memang sangat membantu mengenali diri sendiri :bandit:

    @masarif: ya mas, mohon maaf lahir dan bathin juga :D

  30. wi3nd

    31. Aug, 2008

    berasa nonton heheh…
    “happy shaum ya”

  31. Onie

    01. Sep, 2008

    selamat berpuasa…
    wah mas, nonton dimana theaternya??
    btw, boleh ya tukeran link nya ya mas sigid..hehe ^_^

  32. Isnuyasha

    01. Sep, 2008

    teater dinasti lumayan ternama di jogja sekitar awal 90′an kalo ga salah ya mas sigit?

  33. Sassie Kirana

    01. Sep, 2008

    Lagu yang indah adalah adzan..
    Senam yang sehat adalah sholat..Diet yang sehat adalah Puasa..
    Selamat Berbuka Puasa ya gid..~.~

  34. Manik

    01. Sep, 2008

    Aku pernah nonton Teater ini :D

    Sangat seru ..!!! :wink:

    Maniks terakhir posting Status YM Siapa?

  35. [...] ngalor-ngidul, tapi kalau sedikit cerita buat mengawali barangkali bolehlah, ibarat kita nonton pertunjukan gak langsung ke klimaknya, jadi biar gak kaget, (ups bukankah ini juga sudah nglantur…?). [...]

  36. roni octa

    25. Dec, 2008

    Pentas Kebahagiaan Teater Dinasti “TIKUNGAN IBLIS” karya: Emha Ainun Nadjib, Selasa 30 Desember 2008 di GBB TIM Cikini. Saatnya Mendengar Kritik Iblis. …Pementasan Hanya Satu Malam… http://www.tikunganiblis.com

  37. suklowor

    31. Dec, 2008

    wau.. aku dah 29 tahun pingin sekali nonton teater.. belum kelaksana..

    kalau ada info mo diadain teater (di jogja) aku di kasih info ya mas.. makasih

  38. aziz

    23. Jul, 2009

    iblis adalah makhluk ter jahat di alam gaib :smirk1_ee:

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
<ul><li><strong>woo_about_button</strong> - </li><li><strong>woo_about_header</strong> - </li><li><strong>woo_about_photo</strong> - </li><li><strong>woo_about_text</strong> - </li><li><strong>woo_ads_rotate</strong> - true</li><li><strong>woo_ad_250_adsense</strong> - <div align=\"center\" <a href=\"http://ceriagames.com/support_palestine\"><img src=\"http://ceriagames.com/image/banner-palestine-blog.jpg\" alt=\"Support Palestine\" border=\"0\"></a></div></li><li><strong>woo_ad_250_image</strong> - http://www.woothemes.com/ads/woothemes-250x250.gif</li><li><strong>woo_ad_250_url</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_ad_300_adsense</strong> - </li><li><strong>woo_ad_300_image</strong> - http://www.woothemes.com/ads/woothemes-300x250-2.gif</li><li><strong>woo_ad_300_url</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_ad_banner</strong> - true</li><li><strong>woo_ad_banner_adsense</strong> - </li><li><strong>woo_ad_banner_image</strong> - http://mublogs.org/wp-content/banners/wpmu-banner-600-84.png</li><li><strong>woo_ad_banner_url</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_ad_content_adsense</strong> - </li><li><strong>woo_ad_content_disable</strong> - true</li><li><strong>woo_ad_content_image</strong> - http://www.woothemes.com/ads/woothemes-468x60-2.gif</li><li><strong>woo_ad_content_url</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_ad_image_1</strong> - http://www.weborithm.com/products/affbanners/superpress/SuperPress_125x125.jpg</li><li><strong>woo_ad_image_2</strong> - http://www.elegantthemes.com/affiliates/banners/125x125-4.gif</li><li><strong>woo_ad_image_3</strong> - http://scripts.chitika.net/eminimalls/logos/125x125.png</li><li><strong>woo_ad_image_4</strong> - http://files.adbrite.com/mb/images/125x125-1-white.gif</li><li><strong>woo_ad_image_5</strong> - http://www.woothemes.com/ads/woothemes-125x125-4.gif</li><li><strong>woo_ad_image_6</strong> - http://www.woothemes.com/ads/woothemes-125x125-4.gif</li><li><strong>woo_ad_top_adsense</strong> - <object classid=\"clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000\" codebase=\"http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=7,0,19,0\" name=\"banner_3\" width=\"468\" height=\"60\" align=\"middle\" id=\"banner_3\"> <param name=\"allowScriptAccess\" value=\"sameDomain\" /><param name=\"movie\" value=\"http://www.keywordcountry.com/affiliate/marketing-tools/SEO(468x60).swf?myUrl=http://www.keywordcountry.com/home2.php?nuklea||SEO(468x60)|seo\" /> <param name=\"quality\" value=\"high\" /><param name=\"BGCOLOR\" value=\"#FFFFFF\" /><embed src=\"http://www.keywordcountry.com/affiliate/marketing-tools/SEO(468x60).swf?myUrl=http://www.keywordcountry.com/home2.php?nuklea||SEO(468x60)|seo\" width=\"468\" height=\"60\" align=\"middle\"  quality=\"high\" allowScriptAccess=\"sameDomain\" pluginspage=\"http://www.macromedia.com/go/getflashplayer\" type=\"application/x-shockwave-flash\" bgcolor=\"#FFFFFF\" name=\"banner_3\" id=\"banner_3\"></embed></object></li><li><strong>woo_ad_top_disable</strong> - false</li><li><strong>woo_ad_top_image</strong> - http://www.woothemes.com/ads/woothemes-468x60-2.gif</li><li><strong>woo_ad_top_url</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_ad_url_1</strong> - http://www.weborithm.com/products/go.php?r=29&i=b1</li><li><strong>woo_ad_url_2</strong> - http://www.elegantthemes.com/affiliates/idevaffiliate.php?id=253_0_1_12</li><li><strong>woo_ad_url_3</strong> - https://chitika.com/publishers.php?refid=nuklea</li><li><strong>woo_ad_url_4</strong> - http://www.adbrite.com/mb/landing_both.php?spid=96597&afb=125x125-1-white</li><li><strong>woo_ad_url_5</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_ad_url_6</strong> - http://www.woothemes.com</li><li><strong>woo_alt_stylesheet</strong> - default.css</li><li><strong>woo_asides_category</strong> - Select a category:</li><li><strong>woo_author</strong> - true</li><li><strong>woo_auto_img</strong> - false</li><li><strong>woo_button_link</strong> - </li><li><strong>woo_carousel_height</strong> - 267</li><li><strong>woo_cat_ex</strong> - </li><li><strong>woo_comment_posts</strong> - 7</li><li><strong>woo_content</strong> - true</li><li><strong>woo_content_archives</strong> - true</li><li><strong>woo_content_feat</strong> - true</li><li><strong>woo_custom_css</strong> - </li><li><strong>woo_custom_favicon</strong> - http://www.sigidnugroho.com/wp-content/woo_uploads/5-ikoni.png</li><li><strong>woo_date</strong> - d. M, Y</li><li><strong>woo_featured_header</strong> - </li><li><strong>woo_featured_posts</strong> - 5</li><li><strong>woo_featured_tags</strong> - </li><li><strong>woo_feat_entries</strong> - 7</li><li><strong>woo_feat_image_height</strong> - 195</li><li><strong>woo_feat_image_width</strong> - 540</li><li><strong>woo_feedburner_id</strong> - </li><li><strong>woo_feedburner_url</strong> - </li><li><strong>woo_footer_text</strong> - </li><li><strong>woo_google_analytics</strong> - </li><li><strong>woo_header</strong> - </li><li><strong>woo_header_height</strong> - </li><li><strong>woo_home_arc</strong> - true</li><li><strong>woo_home_link</strong> - true</li><li><strong>woo_home_link_desc</strong> - </li><li><strong>woo_home_link_text</strong> - Home</li><li><strong>woo_home_one_col</strong> - true</li><li><strong>woo_home_thumb_height</strong> - 92</li><li><strong>woo_home_thumb_width</strong> - 247</li><li><strong>woo_image_height</strong> - 210</li><li><strong>woo_image_home_excerpt</strong> - true</li><li><strong>woo_image_single</strong> - true</li><li><strong>woo_image_width</strong> - 540</li><li><strong>woo_logo</strong> - </li><li><strong>woo_logo_left</strong> - </li><li><strong>woo_logo_top</strong> - </li><li><strong>woo_manual</strong> - http://www.woothemes.com/support/theme-documentation/busy-bee/</li><li><strong>woo_popular_posts</strong> - 7</li><li><strong>woo_resize</strong> - false</li><li><strong>woo_shortname</strong> - woo</li><li><strong>woo_shown_slides</strong> - a:7:{i:0;s:2:"79";i:1;s:2:"53";i:2;s:2:"51";i:3;s:2:"49";i:4;s:2:"47";i:5;s:2:"45";i:6;s:2:"44";}</li><li><strong>woo_show_about</strong> - true</li><li><strong>woo_show_carousel</strong> - true</li><li><strong>woo_single_height</strong> - 40</li><li><strong>woo_single_image_height</strong> - 100</li><li><strong>woo_single_image_width</strong> - 100</li><li><strong>woo_single_width</strong> - 105</li><li><strong>woo_slider_cfade</strong> - true</li><li><strong>woo_slider_content_speed</strong> - 1000</li><li><strong>woo_slider_sfade</strong> - true</li><li><strong>woo_slider_speed</strong> - 500</li><li><strong>woo_slider_timeout</strong> - 6000</li><li><strong>woo_tabs</strong> - false</li><li><strong>woo_themename</strong> - Busy Bee</li><li><strong>woo_the_content</strong> - true</li><li><strong>woo_thumb_height</strong> - 88</li><li><strong>woo_thumb_image_height</strong> - 75</li><li><strong>woo_thumb_image_width</strong> - 75</li><li><strong>woo_thumb_width</strong> - 88</li><li><strong>woo_twitter</strong> - sigid_nugroho</li><li><strong>woo_uploads</strong> - a:3:{i:0;s:62:"http://www.sigidnugroho.com/wp-content/woo_uploads/5-ikoni.png";i:1;s:61:"http://www.sigidnugroho.com/wp-content/woo_uploads/4-nuno.png";i:2;s:62:"http://www.sigidnugroho.com/wp-content/woo_uploads/3-sigid.ico";}</li><li><strong>woo_upload_custom_errors</strong> - a:0:{}</li><li><strong>woo_upload_errors</strong> - a:0:{}</li><li><strong>woo_video_category</strong> - Select a category:</li></ul>